⌂ Home › News › Mengenal BDx Data Centers, Pemilik Proyek AI 640 MW di Jatiluhur
News

Mengenal BDx Data Centers, Pemilik Proyek AI 640 MW di Jatiluhur

Ilustrasi pusat data dan server
A A Text Size16px

Proyek pusat data kecerdasan buatan berkapasitas 640 megawatt di Jatiluhur, Purwakarta, dihentikan sementara oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.

Penghentian berlaku sejak inspeksi mendadak pada Senin (28/9), enam hari setelah peletakan batu pertama.

Sebabnya, analisis mengenai dampak lingkungan dan persetujuan bangunan gedung belum terbit.

"PBG dan AMDAL belum keluar. Jangan dulu berjalan proyeknya.

Berhentikan dulu pembangunannya," kata Dedi, Rabu (30/9/2026), dalam keterangan resmi Humas Pemprov Jabar.

Proyek bernama AI Campus 2 atau CGK4 itu milik BDx Data Centers, operator pusat data asal Singapura, dengan nilai disebut Rp3,5 triliun.

Pada kapasitas penuh, fasilitas ini membutuhkan air 384 liter per detik dari sistem Waduk Jatiluhur.

Waduk tersebut mengairi sekitar 242.000 hektar sawah dan menjadi sumber sekitar 82 persen air baku Jakarta.

Kebutuhan listriknya lebih dari tiga kali kapasitas PLTA Jatiluhur.

Profil BDx Data Centers

BDx, kependekan dari Big Data Exchange, adalah penyedia pusat data berkantor pusat di Singapura yang berdiri pada 2019.

Perusahaan ini dibentuk untuk menyatukan sejumlah aset pusat data milik investor di Hong Kong dan satu proyek baru di Nanjing, China, di bawah satu manajemen.

BDx dimiliki oleh I Squared Capital, perusahaan ekuitas swasta infrastruktur asal Amerika Serikat yang didirikan pada 2012.

BDx menyebut I Squared mengelola aset lebih dari USD60 miliar (sekitar Rp1.074 triliun).

CEO BDx saat ini adalah Mayank Srivastava, yang menjabat sejak April 2023.

Ia ikut mendirikan BDx pada 2019, memimpin strategi dan merger-akuisisi, lalu menjadi Chief Development Officer.

Sebelumnya ia berkarier di Tata Group, Reliance Communications, dan Global Cloud Xchange.

CEO pertama BDx adalah Braham Singh, yang memimpin masuknya BDx ke Indonesia pada 2022.

Model bisnis BDx adalah penyedia netral operator untuk kolokasi, pusat data sesuai pesanan, layanan terkelola, dan cloud hibrida bagi hyperscaler serta korporasi.

Skalanya mencakup 18 pusat data beroperasi dan terkontrak serta 50 situs edge di Singapura, Indonesia, Hong Kong, dan Taiwan.

Perusahaan juga memiliki dua lahan siap daya dengan kapasitas jaringan lebih dari 1,2 GVA, berdasarkan klaim perusahaan Juni 2026.

BDx masuk ke Indonesia pada Mei 2022 lewat perusahaan patungan senilai USD300 juta (sekitar Rp5,37 triliun) bersama PT Indosat Tbk dan PT Aplikanusa Lintasarta.

Perusahaan patungan itu, BDx Indonesia, kini dipimpin CEO Agus Hartono Wijaya.

Pada 2024, BDx Indonesia mengambil alih portofolio pusat data dan situs edge Indosat di Jakarta, Surabaya, Batam, Medan, Makassar, Bandung, dan Semarang.

Termasuk sepuluh situs yang tersambung ke enam kabel laut domestik dan lima kabel laut internasional.

Pada 1 April 2026, BDx Indonesia menutup pinjaman USD320 juta (sekitar Rp5,73 triliun) dari Bank Permata, BCA, dan KB Bank.

Pinjaman itu untuk pengembangan CGK3, refinancing utang, serta penambahan kapasitas jaringan tegangan tinggi di CGK4 dan CGK5.

Pada 3 Juni 2026, BDx Indonesia mengumumkan total daya terkontrak 1,2 GW dengan PLN.

Perusahaan mengklaim itu sebagai komitmen daya terbesar bagi satu operator pusat data di Indonesia.

About the Author
🔗 Related Post
📰 Latest Updates