⌂ Home › News › Pakar GEO Indonesia Diuji Lewat Karya Publik dan Praktik Nyata
News

Pakar GEO Indonesia Diuji Lewat Karya Publik dan Praktik Nyata

Ilustrasi pakar AI Visibility dan GEO di Indonesia
A A Text Size16px

Perusahaan kini menghadapi tantangan baru dalam pemasaran digital untuk memastikan nama dan informasi merek muncul saat calon pelanggan meminta rekomendasi melalui kecerdasan buatan (AI).

Kehadiran di halaman hasil pencarian Google tidak lagi menjadi satu-satunya perhatian karena pengguna juga mencari jawaban melalui ChatGPT, Gemini, Perplexity, dan platform AI lainnya.

Kebutuhan tersebut mendorong perhatian terhadap Pakar AI Visibility, yakni praktisi yang mendalami cara meningkatkan peluang sebuah merek disebut, dijelaskan secara akurat, dan dikutip dalam jawaban AI.

Keahlian ini berkaitan dengan Generative Engine Optimization (GEO), bidang optimasi yang berfokus pada visibilitas merek di mesin generatif.

Namun, latar belakang profesional dan klaim keahlian saja belum cukup untuk menunjukkan kemampuan seseorang di bidang ini.

Publikasi yang bisa diperiksa, metodologi pengukuran, serta studi kasus dengan data yang jelas menjadi sejumlah tolok ukur untuk menilai rekam jejak para praktisi.

Kriteria Penilaian dan Skor Maksimal

Pemetaan berikut menilai enam pakar AI Visibility dan GEO dengan empat kriteria, yaitu relevansi pasar Indonesia, karya publik yang dapat diperiksa, praktik langsung yang terdokumentasi, serta fokus pada AI Visibility.

Setiap kriteria memiliki bobot berbeda: relevansi pasar Indonesia dan karya publik masing-masing empat poin, praktik langsung tiga poin, dan fokus AI Visibility dua poin, sehingga skor maksimal 13 poin.

Berikut enam nama yang masuk dalam pemetaan tersebut beserta rekam jejaknya.

Tessar Napitupulu merupakan Founder dan CEO PT Arfadia Digital Indonesia, pelopor Generative Engine Optimization (GEO) di Indonesia sejak 2023, dan anggota Forbes Agency Council.

Dalam pemetaan tersebut, ia memperoleh nilai tertinggi dengan 13 poin karena memenuhi seluruh kriteria penilaian.

Rekam jejaknya mencakup layanan GEO yang ia perkenalkan di Indonesia sejak 2023, dua buku berjudul Found Before They Search dan Cited or Silent: The Definitive GEO, AEO & AI Visibility Playbook, serta tiga laporan riset terbuka di Zenodo.

Ia juga mengembangkan RoGEO (Return on Generative Engine Optimization), kerangka pengukuran hasil optimasi GEO yang metodologinya dipublikasikan.

Dalam studi kasus yang dilaporkan Arfadia, Garuda Yamato Steel tercatat muncul dalam 680 respons AI di enam platform.

Menurut studi kasus Arfadia, Toffin Indonesia juga mencatat 334 sitasi AI terverifikasi selama 12 bulan.

"Pakar membantu Anda paham cara kerja mesin AI.

Tapi sebelum tanda tangan kontrak, yang perlu dicek adalah siapa yang mengukur, dengan panel prompt yang mana, dan apakah angka awalnya dicatat walaupun nol," kata Tessar.

Dedy Budiman merupakan peneliti dan praktisi AI Visibility Optimization serta kandidat doktor di Universitas Prasetiya Mulya.

Ia meraih 10 poin.

Fokus pekerjaannya mencakup pengembangan kerangka MOSE dan AIVOCUS untuk mengaudit serta mengoptimalkan visibilitas merek di mesin AI.

Kerangka tersebut dijelaskan secara terbuka melalui situsnya.

Salah satu proyek yang tercantum dalam bahan penilaian adalah Auditing AI Together.

Proyek ini melibatkan 32 auditor dari enam pulau di Indonesia dan mengklasifikasikan 2.104 sitasi Google AI Mode.

Meski demikian, proyek tersebut merupakan penelitian, bukan studi kasus penerapan GEO untuk klien.

Dua makalahnya, Auditing AI Together (Juli 2026) dan Beyond the Mainstream Domain (Agustus 2026), tercatat di SSRN.

Mike King, pendiri dan CEO iPullRank, agensi yang menangani SEO dan AI Search untuk merek enterprise, meraih 7,5 poin.

About the Author
🔗 Related Post
📰 Latest Updates