Anggapan bahwa brand lokal kini bekerja untuk platform dinilai tidak sepenuhnya tepat oleh Head of SME Business DOKU, Pribadi Hasto Kusumo.
Ia menilai marketplace tetap memberi nilai nyata berupa trafik, kepercayaan konsumen, logistik, dan sistem pembayaran.
Persoalan sebenarnya, kata Hasto, bukan keberadaan marketplace, melainkan struktur ketergantungan yang terbentuk.
Risiko muncul ketika brand terlalu bergantung pada satu kanal, sementara biaya kanal bisa berubah dan hubungan langsung dengan pelanggan tidak dimiliki.
Ketergantungan pada satu platform dinilainya tidak menguntungkan dan meningkatkan risiko bagi pemilik bisnis.
Perubahan kebijakan algoritma atau biaya administrasi platform dapat berimbas langsung pada usaha.
Karena itu, ia menyarankan pelaku usaha mengubah pertanyaan yang diajukan pada diri sendiri.
Bukan hanya soal berapa komisi yang dibayar, tetapi apakah bisnis tetap sehat jika biaya channel naik lagi.
Ciri brand yang lebih siap
Hasto menegaskan membangun kanal mandiri bukan resep yang berlaku untuk semua jenis usaha.
Dari pengamatannya terhadap merchant yang didampingi DOKU, ada pola konsisten yang membedakan brand berhasil dan tidak.
Brand yang lebih siap membangun kanal sendiri biasanya memiliki repeat purchase tinggi, brand identity kuat, dan margin cukup untuk membiayai akuisisi pelanggan.
Sebaliknya, produk yang bersifat komoditas, jarang dibeli ulang, dan sangat bergantung pada pencarian harga justru lebih optimal tetap mengandalkan marketplace.
Bagi kategori itu, marketplace bisa menjadi kanal yang paling efisien.
