Miliarder Elon Musk memperingatkan bahwa lebih dari 200 penyedia layanan komputasi awan AI berpotensi bangkrut atau bergabung.
Pemicunya, pemberi pinjaman kian memperketat akses modal ke sektor tersebut.
Musk menyampaikan hal itu melalui akun X miliknya.
Menurutnya, sebagian besar investor telah berhenti mendanai perusahaan yang tidak memiliki aliran pendapatan signifikan di luar pusat data AI.
Ia mencontohkan SpaceX yang mengumpulkan dana USD40 miliar untuk membeli GPU.
Dana itu berasal dari peringkat kredit perusahaan serta pendapatan layanan internet satelit Starlink dan bisnis roketnya.
Musk menilai kondisi tersebut akan mendorong lebih dari 200 penyedia layanan cloud baru memasuki fase kebangkrutan dan mati sia-sia.
Hanya sebagian kecil yang akan bertahan, tetapi jumlahnya tidak banyak.
Laporan Gartner dan Tekanan pada Penyedia Cloud AI
Peringatan Musk muncul setelah Gartner menerbitkan laporan yang menyebut lebih dari 80% penyedia komputasi awan generasi berikutnya akan menghentikan operasi independen pada 2030.
Industri ini dinilai kesulitan menghasilkan pengembalian yang cukup dari investasi besar-besaran dan infrastruktur AI.
Dampaknya juga dapat dirasakan perusahaan penambangan Bitcoin yang beralih ke infrastruktur AI.
IREN, misalnya, berekspansi ke layanan komputasi awan AI dengan menyewakan daya komputasi.
Sementara Core Scientific menyediakan layanan hosting pusat data untuk klien neocloud seperti CoreWeave.
Gartner memperkirakan vendor AI akan menghabiskan hampir USD1 triliun untuk infrastruktur pada 2026.
Tambahan USD6 triliun diperkirakan dikeluarkan dari 2027 hingga 2030.
Namun, pendapatan tidak akan cukup untuk menutup seluruh investasi tersebut.
Tekanan paling tinggi dirasakan platform komputasi awan yang sedang berkembang.
Mereka harus menghasilkan pendapatan memadai dari layanan komputasi AI agar tetap beroperasi.
Menurut Gartner, perusahaan cloud yang lebih besar memiliki aliran pendapatan lebih beragam sehingga dapat menopang investasi AI selama bertahun-tahun.
