Pukul 07.57, seorang perempuan berdiri di anak tangga batu. Kain batik cokelat keemasan membalut tubuhnya, sementara gapura tua dengan kusen kayu berukir berdiri di belakangnya.
Langit biru bersih menjadi latar. Waktu itu tidak dibaca dari jam tangan, melainkan dari bingkai foto yang tertanam di gambar.
Xiaomi 17T Pro dapat menempelkan bingkai putih bergaya Leica di bawah foto. Bingkai itu memuat jam, panjang lensa, bukaan, kecepatan rana, ISO, hingga titik koordinat.
Koordinat menunjuk ke Kotagede, tepatnya Kompleks Makam Raja-Raja Mataram Islam atau Pasarean Hastana Kitha Ageng. Di sana dimakamkan Panembahan Senopati, raja pertama Mataram Islam.
Nama kecilnya Danang Sutawijaya. Peziarah harus melewati tiga gapura berbentuk Paduraksa, warisan arsitektur Hindu dengan pintu kayu tebal berukir.
Abdi dalem berbusana Jawa menjaga area. Aturannya ketat: lepas alas kaki, berkain jarik, dan tidak boleh memotret di dalam makam.
Karena itu, pemotretan dilakukan di luar, di antara tembok bata dan gapura. Tembok bata merah yang mulai berlumut dan panel batu putih berukir bunga menjadi latar.
Di puncak tembok ada lengkung setengah lingkaran berlapis-lapis seperti riak air. Model berpose seperti menari di depannya, rambut disanggul dan kelat bahu melingkar di lengan atas.
Pukul 08.01, lensa 46 mm digunakan.
Lensa ini dua kali lebih dekat dari lensa utama 23 mm, membuat wajah model lebih besar dan tembok di belakangnya terasa lebih rapat.
Warna di foto bertarung dengan rukun. Langit biru terasa dingin, sedangkan batik, bata, dan kulit menghadirkan kehangatan.
Menurut psikologi warna yang dipakai Leica, subjek hangat di tengah bingkai dingin akan menarik mata. Pagi itu, langit Kotagede yang mengajarkannya.
