Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menyatakan ada indikasi kecerdasan buatan atau AI digunakan dalam sejumlah serangan peretasan yang menargetkan sektor keuangan negaranya.
Pernyataan itu disampaikan di tengah penyelidikan kepolisian atas kebocoran data nasabah yang dilaporkan lebih dari tujuh lembaga keuangan.
Menurut Komisi Jasa Keuangan atau Financial Services Commission, lebih dari 68.000 orang terdampak oleh serangan tersebut.
Lembaga yang melapor mencakup beberapa bank terbesar di Korea Selatan, dengan laporan kebocoran data nasabah muncul selama sepekan terakhir.
Kekhawatiran soal AI dan Keamanan Bank
Dalam rapat kabinet, Lee Jae Myung mengatakan tanda-tanda penggunaan AI dalam beberapa serangan peretasan menimbulkan kekhawatiran dan kecemasan di masyarakat.
Ia menilai teknologi AI kini mempermudah aktivitas peretasan, bahkan bagi individu yang tidak memiliki keahlian khusus.
Kemampuan AI mendeteksi kerentanan perangkat lunak yang sebelumnya tidak diketahui turut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan bank, perusahaan, dan infrastruktur pemerintah.
Lee Jae Myung menyebut kemajuan AI telah menghasilkan metode peretasan yang lebih canggih sekaligus memperluas skala kerusakan akibat serangan siber.

