Pendidikan sering dianggap sebagai kebutuhan utama anak. Padahal, kasih sayang orang tua juga menjadi fondasi penting bagi tumbuh kembang mereka.
Kehilangan sosok ayah atau ibu dapat menimbulkan dampak negatif secara emosional, psikologis, maupun sosial.
Membangun kedekatan emosional antara orang tua dan anak adalah proses berkelanjutan. Dibutuhkan kesabaran, konsistensi, dan ketulusan hati yang mendalam.
Curahan kasih sayang yang tulus dan tanpa syarat membantu anak mengenali arti cinta sejati. Anak juga belajar menghargai orang lain di sekitarnya.
Saat anak merasakan kehangatan pelukan dan senyuman tulus setiap hari, sistem saraf mereka merespons dengan rasa aman. Kondisi ini penting bagi perkembangan otak dan kestabilan mental.
Hubungan harmonis itu menjadi landasan kokoh pembentukan karakter anak. Mereka tumbuh menjadi individu yang percaya diri dan berjiwa sosial tinggi.
Peran Yayasan Al Qohhar
Selama 23 tahun, Yayasan Al Qohhar awalnya merupakan majelis ta'lim yang dibina oleh Guru dari Haji Robert Nitiyudo Wachjo.
Kegiatan saat itu masih sederhana dan berfokus pada kegiatan keagamaan.
Bagi Haji Robert, kebutuhan anak yatim dan yatim piatu tidak berhenti pada santunan. Pendidikan, tempat tinggal, makanan, kesehatan, pakaian, hingga pendampingan sehari-hari juga perlu diperhatikan.
Yayasan Al Qohhar menyediakan fasilitas pendukung bagi anak-anak di rumah masing-masing. Mereka tetap diasuh oleh kerabat terdekatnya.
Dukungan itu mencakup beasiswa, renovasi rumah, pendampingan masalah di sekolah, kunjungan rutin tim psikolog dan tenaga medis, klinik dokter umum dan dokter gigi, hingga rumah sakit spesialis.
Bantuan tersebut menyasar mereka yang membutuhkan penanganan khusus. Termasuk anak-anak yang mengalami jantung bocor, spina bifida, retinal detachment, dan leukemia.
