Perusahaan-perusahaan kini berlomba mengembangkan AI agent untuk mengotomatisasi pekerjaan, mempercepat pengambilan keputusan, dan meningkatkan produktivitas.
IDC memproyeksikan pada 2028 akan ada sekitar 1,3 miliar AI agent sedunia.
Pada 2030, 45% perusahaan di antaranya diperkirakan akan mengorkestrasi AI agent dalam skala yang cukup besar.
Namun, banyak perusahaan yang hanya mengembangkan AI agent tanpa menghasilkan nilai bisnis.
Penyebabnya antara lain agent dibangun menggunakan berbagai tools, bekerja dengan data yang terpisah (data silo), masih memiliki celah keamanan, dan banyak yang berhenti pada tahap awal.
Director Business Development & Innovation PT Multipolar Technology Tbk, Halim Hartono Perdana, mengatakan perusahaan tidak cukup hanya memiliki banyak AI agent.
"Yang lebih penting adalah memastikan agent-agent tersebut memahami konteks bisnis, terhubung dengan data dan alur kerja (workflow) yang tepat, serta menghasilkan output yang benar-benar mendukung tujuan bisnis," katanya dalam seminar bertema "The Next Frontier of Enterprise Intelligence: Unlocking Business Value with Autonomous AI" yang diselenggarakan Multipolar Technology dan Microsoft Indonesia di Jakarta, Kamis (24/9/2026).
Halim menambahkan, di sinilah transformasi AI mulai bergeser dari sekadar penggunaan teknologi menjadi perubahan cara perusahaan bekerja.
Tiga Tantangan Utama
Setidaknya ada tiga tantangan utama yang muncul ketika perusahaan mulai memperluas penggunaan AI agent.
Pertama, konteks bisnis.
Agent membutuhkan akses dan pemahaman terhadap dokumen, percakapan, alur kerja, dan berbagai informasi agar dapat menghasilkan respons dan tindakan yang sesuai dengan kebutuhan bisnis.
Kedua, aspek security dan governance.
Semakin banyak agent digunakan, semakin besar pula kebutuhan perusahaan akan visibility, control, dan safeguards, serta mekanisme tata kelola yang konsisten.

