⌂ Home › News › Film Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI Kini Hadir di Platform Digital
News

Film Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI Kini Hadir di Platform Digital

Poster atau adegan film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C Noer
Film Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI Kini Hadir di Platform Digital
A A Text Size16px

Film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI karya sutradara Arifin C Noer kini dapat disaksikan kembali secara online melalui berbagai platform digital.

Sinema legendaris ini mengisahkan peristiwa penculikan dan pembunuhan perwira tinggi Angkatan Darat pada peralihan September hingga Oktober 1965.

Tayangan berdurasi sekitar empat jam hasil produksi Pusat Produksi Film Negara itu tersedia di platform penyiaran digital seperti Vidio dan YouTube.

Alur dan Peristiwa dalam Film

Film ini merekam jejak sejarah tragedi nasional yang berfokus pada pembantaian para perwira, ajudan, hingga warga sipil dalam pusaran upaya pengambilalihan kekuasaan.

Adegan pembuka menyoroti aktivitas kelompok yang digambarkan sebagai anggota PKI melalui simbol organisasi serta buku tulisan DN Aidit.

Narasi berlanjut pada pengepungan kediaman Brigadir Jenderal Donald Isaac Pandjaitan di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, oleh sekelompok prajurit pada malam penyerangan.

Jenderal Pandjaitan yang sempat meminta waktu untuk beribadah sebelum memenuhi panggilan penjemputan ditembak di area teras rumahnya.

Peristiwa tragis di kawasan Kebayoran Baru tersebut disaksikan langsung oleh pihak keluarga korban sebelum jenazahnya diangkut menggunakan truk militer.

Upaya penangkapan paksa menyasar perwira lain di lokasi terpisah, termasuk Jenderal Abdul Harris Nasution yang berhasil meloloskan diri melompati dinding pertahanan rumah.

Namun putri bungsunya, Ade Irma Suryani Nasution, terkena tembakan dalam insiden penyerangan tersebut.

Sejumlah perwira militer seperti Kapten Pierre Tendean dan Jenderal MT Haryono turut menjadi sasaran penculikan.

Para korban kemudian dibawa ke kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur, hingga menghembuskan napas terakhir akibat tindakan kekerasan.

Tokoh militer lainnya termasuk Kepala Jaksa Militer Sutoyo Siswomiharjo, Mayjen Siswondo Parman, serta Letnan Jenderal Soeprapto ikut ditangkap paksa.

Film ini memperlihatkan pula bagaimana kelompok Gerakan 30 September merancang narasi publik atas aksi penyerangan yang mereka jalankan.

Rekam Jejak Penayangan dan Kontroversi

Pemutaran perdana karya sinema ini dimulai melalui layar tancap di wilayah DKI Jakarta pada 1984 sebelum ditayangkan rutin oleh TVRI setiap 30 September mulai 1985.

Kewajiban penayangan harian tersebut dihentikan seiring bergulirnya era Reformasi 1998, meski beberapa stasiun televisi swasta masih menyiarkannya pada tahun-tahun berikutnya.

Naskah sinema ini disusun mengacu pada buku karangan Nugroho Notosusanto dan Ismail Saleh yang menjadi rujukan versi pemerintah era Orde Baru.

Arifin C Noer menggarap proyek sinematografi ini berdasarkan permintaan resmi dari otoritas pemerintahan kala itu.

Tayangan ini memicu perdebatan di kalangan sejarawan terkait akurasi adegan penyesuaian sejarah.

Sejarawan Bonnie Triyana menyoroti adegan penyiksaan tujuh jenderal di Lubang Buaya yang dinilai tidak selaras dengan catatan hasil pemeriksaan visum medis korban.

Berdasarkan data resmi BPMP Riau Kemendikdasmen, terdapat sejumlah nama perwira tinggi beserta warga sipil yang gugur dalam tragedi sejarah ini.

About the Author
🔗 Related Post
📰 Latest Updates